Apakah Zuhud itu?
| Mutiara Hikmah |
APAKAH
ZUHUD ITU ❓
Sahabat yang beriman...
Ibnul Qoyim menyebutkan definisi zuhud dan wara’ yang pernah beliau dengar dari gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Ibnul Qoyim berkata :
ﺳﻤﻌﺖ ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ﻗﺪﺱ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﻭﺣﻪ ﻳﻘﻮﻝ : ﺍﻟﺰﻫﺪ ﺗﺮﻙ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻨﻔﻊ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﺍﻟﻮﺭﻉ : ﺗﺮﻙ ﻣﺎ ﺗﺨﺎﻑ ﺿﺮﺭﻩ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ
"Saya mendengar Syaikhul Islam – semoga Allah mensucikan ruhnya – pernah mengatakan,
“Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat.
” Dan “Wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan bagi kehidupan di akhirat.”
Kemudian Ibnul Qoyim menegaskan :
ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻟﻌﺒﺎﺭﺓ ﻣﻦ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﺎ ﻗﻴﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺰﻫﺪ ﻭﺍﻟﻮﺭﻉ ﻭﺃﺟﻤﻌﻬﺎ
"Ungkapan ini adalah definisi terbaik dan paling mewakili untuk kata zuhud dan wara’."
( Madarij as-Salikin, 2/10)
✒ Berdasarkan pengertian di atas, zuhud lebih tinggi derajatnya dibandingkan wara’, Karena zuhud pasti wara’ dan tidak sebaliknya.
Sebagian ulama menyebutkan bahwa zuhud telah di jelaskan oleh Allah ta'ala dalam Al-Qur'an.Allah ta'ala berfirman :
ﻟِﻜَﻴْﻠَﺎ ﺗَﺄْﺳَﻮْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻓَﺎﺗَﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻔْﺮَﺣُﻮﺍ ﺑِﻤَﺎ ﺁَﺗَﺎﻛُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﻛُﻞَّ ﻣُﺨْﺘَﺎﻝٍ ﻓَﺨُﻮﺭٍ
"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih terhadap apa yang tidak kamu dapatkan, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
(QS. Al-Hadid : 23)
Memahami ayat di atas, Imam al-Junaid berkata :
ﻓﺎﻟﺰﺍﻫﺪ ﻻ ﻳﻔﺮﺡ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻤﻮﺟﻮﺩ ﻭﻻ ﻳﺄﺳﻒ ﻣﻨﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﻔﻘﻮﺩ
"Orang yang zuhud tidak menjadi bangga karena memiliki dunia dan tidak menjadi sedih karena kehilangan dunia."
(Madarij as-Salikin, 2/10)
✒ Zuhud adalah amal hati, sehingga yang bisa menilai hanya Allah. Karena itu, kita tidak bisa menilai status seseorang itu zuhud ataukah tidak zuhud, hanya semata dengan melihat penampilan luar.
Kekayaan dan harta yang dimiliki, bukan standar zuhud.
Orang bisa menjadi zuhud, sekalipun Allah memberikan banyak kekayaan kepadanya.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa para Nabi yang telah diberikan kerajaan oleh Allah ta'ala, seperti Nabi Yusuf, Daud, dan Sulaiman, mereka adalah orang-orang yang sangat zuhud.
Allah ta'ala berfirman tentang sifat Nabi Daud :
ﻭَﺍﺫْﻛُﺮْ ﻋَﺒْﺪَﻧَﺎ ﺩَﺍﻭُﻭﺩَ ﺫَﺍ ﺍﻟْﺄَﻳْﺪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﺃَﻭَّﺍﺏٌ
"Ingatlah hamba-Ku Daud, pemilik kekuatan (dalam melakukan ketaatan). Sesungguhnya beliau awwab (orang yang suka kembali kepada Allah)."
(QS. Shad : 17)
Allah ta'ala juga berfirman tentang Nabi Sulaiman :
ﻭَﻭَﻫَﺒْﻨَﺎ ﻟِﺪَﺍﻭُﻭﺩَ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥَ ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺇِﻧَّﻪُ ﺃَﻭَّﺍﺏٌ
"Kami anugerahkan anak kepada Daud yang namanya Sulaiman. Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia awwab (orang suka kembali kepada Allah)."
(QS. Shad: 30)
Firman Allah ta'ala tentang Nabi Ayub :
ﺇِﻧَّﺎ ﻭَﺟَﺪْﻧَﺎﻩُ ﺻَﺎﺑِﺮًﺍ ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺇِﻧَّﻪُ ﺃَﻭَّﺍﺏٌ
“Kami dapati Ayub adalah orang yang sabar. Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia orang yang awwab (suka kembali kepada Allah).”
(QS. Shad : 44).
Mereka adalah para Nabi yang mulia dengan ujian yang berbeda, Allah ta'ala memberi gelar kepada mereka dengan kata ‘ Awwab’.
Nabi Daud dan Nabi Sulaiman diuji dengan kekayaan, sementara Nabi Ayyub diuji dengan kemiskinan.
✒ Hasan al-Bashri pernah ditanya :
ﻣﺎ ﺳﺮ ﺯﻫﺪﻙ ﻓﻰ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ؟
“Apa rahasia zuhud anda terhadap dunia?”
Jawab beliau :
ﻋﻠﻤﺖ ﺑﺄﻥ ﺭﺯﻗﻰ ﻟﻦ ﻳﺄﺧﺬﻩ ﻏﻴﺮﻯ ﻓﺎﻃﻤﺄﻥ ﻗﻠﺒﻰ ﻟﻪ , ﻭﻋﻠﻤﺖ ﺑﺄﻥ ﻋﻤﻠﻰ ﻻ ﻳﻘﻮﻡ ﺑﻪ ﻏﻴﺮﻯ ﻓﺎﺷﺘﻐﻠﺖ ﺑﻪ , ﻭﻋﻠﻤﺖ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻄﻠﻊ ﻋﻠﻰ ﻓﺎﺳﺘﺤﻴﻴﺖ ﺃﻥ ﺃﻗﺎﺑﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻴﺔ , ﻭﻋﻠﻤﺖ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻳﻨﺘﻈﺮﻧﻰ ﻓﺄﻋﺪﺩﺕ ﺍﻟﺰﺍﺩ ﻟﻠﻘﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ
"Aku yakin bahwa rizkikku tidak akan diambil orang lain, sehingga hatiku tenang dalam mencarinya. Saya yakin bahwa amalku tidak akan diwakilkan kepada orang lain, sehingga aku sendiri yang sibuk menjalankannya. Aku yakin bahwa Allah selalu mengawasi diriku, hingga aku malu merespon pengawasannya dengan melakukan maksiat. Aku yakin bahwa kematian menantiku. Sehingga aku siapkan bekal untuk bertemu dengan Allah…"
Semoga Allah ta'ala membimbing kita untuk mengambil bagian dari sifat zuhud itu.
Semoga bermanfaat...
Komentar