Catatan Amal


BACALAH CATATAN AMALMU
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Mari kita hayati firman Allah SWT:
اِقْرَأْ كِتَابَكَ، كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًا
“Bacalah catatan [amal]-mu! Cukuplah kamu sendiri saat ini menjadi penghitung dirimu sendiri.” [Q.s. al-Isra’: 14]
Ini adalah titah Allah SWT kepada kita, saat kita dihadapkan kepada-Nya kelak di Yaum al-Hisab, Hari Perhitungan Amal, Hari Kiamat. Kita diperintahkan untuk membaca catatan amal perbuatan kita. Pada saat itu, semua yang amal perbuatan yang pernah kita lakukan di dunia, baik yang kita tampakkan maupun sembunyikan, semuanya tercatat di situ [Q.s. at-Thariq: 9]. Semuanya bisa kita baca dengan jelas. Kita tidak bisa menghindar, apalagi mengelak. Allahu Akbar..
Kita diperintahkan untuk membaca catatan amal perbuatan kita. Iya, catatan amal perbuatan kita. Catatan yang kita buat sendiri. Ketika kita mengisi daftar aktivitas harian kita, dengan kata dan perbuatan. Bahkan, apa yang tidak kita katakan, dan tidak kita lakukan secara fisik, tetapi kita pendam dalam hati pun semuanya ada di dalam catatan itu. Mengisi seluruh daftar aktivitas harian kita. Itulah catatan amal perbuatan kita. Maka, Allah SWT berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Siapa saja yang melakukan sebesar biji zarrah kebaikan, maka dia pun akan melihatnya. Begitu juga, siapa saja yang melakukan sebesar biji zarrah keburukan, dia pun akan melihatnya.” [Q.s. az-Zalzalah: 7-8].
Begitulah. Apapun yang kita lakukan; baik, buruk, besar, kecil, tampak dan tidak, semuanya akan kita lihat dalam catatan amal perbuatan kita. Semuanya akan ditunjukkan oleh Allah SWT di hadapan kita, saat kita menghadap-Nya. Kita pun bisa menghitung sendiri berapa amal perbuatan kita yang diterima, dan berapa amal perbuatan kita yang ditolak oleh Allah SWT. Itulah yang Allah titahkan kepada kita, “Cukuplah kamu sendiri saat ini menjadi penghitung dirimu sendiri.” [Q.s. al-Isra’: 14]
Betapa sedihnya, saat kita merasa telah banyak berbuat di dunia, tetapi amal perbuatan kita ditolak oleh Allah SWT. Sebagaimana amal perbuatan orang-orang Kafir yang dituturkan dalam firman-Nya:
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً
“[Di dunia] bekerja keras, lagi susah payah. Tetapi, memasuki api [neraka] yang sangat panas.” [Q.s. al-Ghasyiyah: 3-4]
Sedih, karena tidak ada siapapun yang bisa menolong kita. Karena, kita sibuk mengurus urusan kita sendiri, sehingga tidak sempat lagi mengurus urusan orang lain. Saat itu, saudara tidak bisa lagi membantu saudaranya, anak tidak lagi bisa membantu ibu bapaknya, begitu juga isteri dan anaknya. Pendek kata, semuanya sibuk memikirkan urusan dirinya sendiri [Q.s. ‘Abasa: 35-38]. Di saat seperti itu, hati dan pikiran kita jelas sedih, ketika amal perbuatan kita ditolak oleh Allah SWT. Sebaliknya, dalam situasi yang mencekam seperti itu, kita pun sedikit terobati, ketika amal perbuatan kita diterima.
Masalahnya, bagaimana caranya agar amal perbuatan kita diterima oleh Allah SWT? Apakah ada standar yang Allah SWT gunakan di Akhirat, yang telah diturunkan di dunia, sehingga bisa menjadi patokan amal perbuatan kita? Kita pun tahu, bagaimana caranya agar amal perbuatan kita diterima oleh-Nya.
Dalam Q.s. al-Mulk: 2, Allah SWT. menegaskan bahwa yang menjadi ukuran diterima dan tidaknya amal perbuatan kita adalah “ayyukum ahsanu ‘amal[an] [siapakah di antara kalian yang amalnya paling sempurna].” Allah tidak menggunakan ukuran, “ayyukum aktsaru ‘amal[an] [siapakah di antara kalian yang amalnya paling banyak].” Karena itu, ukurannya adalah kualitas, bukan kuantitas. Al-Qadhi ‘Iyadh, sebagaimana yang dikutip oleh banyak Ahli Tafsir, menjelaskan, “Makna ahsanu ‘amal[an] adalah: akhlashuhu [siapakah yang amal perbuatannya paling ikhlas], dan ashwabuhu [siapakah yang amal perbuatannya paling benar].” Itulah kualitas amal perbuatan yang akan diterima oleh Allah SWT. Ukurannya, ikhlas dan benar.
Amal perbuatan yang kita lakukan akan diterima oleh Allah, jika kita lakukan semata-mata karena Allah SWT, bukan karena siapapun. Itulah ikhlas. Tetapi, ikhlas saja tidak cukup. Karena, ketika kita melakukan perbuatan ikhlas semata untuk Allah, namun salah, maka perbuatan itu pun tidak akan diterima oleh Allah SWT. Karena itu, selain ikhlas, kita pun harus memastikan, bahwa perbuatan kita benar, sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Sebab, Rasulullah saw. diutus kepada kita untuk menjadi teladan yang harus kita ikuti [Q.s. al-Ahzab: 21]. Baginda saw. juga diberi tugas untuk menjelaskan aturan Allah SWT yang diturunkan kepada manusia [Q.s. an-Nahl: 44].
Setelah semuanya itu diturunkan di dunia, ketika al-Qur’an tidak diturunkan begitu saja agar kita baca, tetapi Allah SWT juga mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menjelaskan dan mempraktikkan seluruh kandungannya, maka kita pun tidak ada lagi alasan ketika menghadap kepada-Nya. Alasan yang menjadi argumen [hujah] kita, ketika kita melakukan pelanggaran di dunia, kemudian kita ditanya saat di hadapan-Nya, “Mengapa?”, lalu kita katakan, “Saya tidak tahu, ya Rabb.” Karena itu, Allah SWT berfirman:
رُسُلاً مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلاَّ يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةً بَعْدَ الرُّسُلِ
“Rasul-rasul yang membawa kabar gembira dan peringatan, agar kelak orang-orang itu tidak lagi mempunyai alasan di hadapan Allah, setelah [diutusnya] Rasul-rasul itu. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Q.s. an-Nisa’: 165]
Begitulah, Maha Adil dan Bijaksanya Allah SWT. Dia telah menurunkan syariah di dunia, tempat kita melakukan amal perbuatan ini, yang menjadi standar perbuatan kita, patokan benar dan salah, diterima dan tidaknya. Semuanya itu sudah diberikan kepada kita. Tidak hanya berupa pemikiran, tetapi fakta yang dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan kita oleh Baginda saw. Standar dan patokan yang sama juga digunakan oleh Allah SWT untuk menentukan, apakah amal perbuatan kita diterima atau tidak.
Berbahagialah orang-orang yang melakukan amal perbuatannya ikhlas, semata untuk-Nya, dan benar, karena berpegang teguh dan mengikuti sunah Nabi-Nya. Mereka dan tentu kita patut berbahagia, karena amal kita diterima oleh-Nya. Dengannya, kita pun dibebaskan dari neraka, dan ditempatkan di dalam surga-Nya. Semoga kita termasuk di antara mereka. Maka, “Bacalah catatan [amal]-mu! Cukuplah kamu sendiri saat ini menjadi penghitung dirimu sendiri.” [Q.s. al-Isra’: 14]. Teliti, dan renungkalah!
Semoga amal perbuatan kita diterima oleh-Nya. Amin, amin, amin ya Mujibas Sailin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelestarian Alam dan Hutan di Era Khilafah

Empat Kewajiban Muslim dan Muslimah

Bunda, dengarkan Ceritaku