Bahasa Arab

Sabar dan Konsisten Merupakan Faktor Terbesar untuk Menguasai Bahasa Arab

Seandainya bukan karena kesabaran, niscaya seorang petani tidak akan memetik hasil padi yang baik.

Seandainya bukan karena kesabaran, niscaya seorang pedagang tidak akan meraih hasil kesuksesan yang baik.

Begitu pula semua orang yang bersabar, dia mampu menahan rasa pahit dan sakit, bahkan sekalipun berjalan diatas duri. Ketika terjatuh dari kegagalan, dia akan berusaha bangkit demi mewujudkan harapan dan cita-cita yang ingin diraihnya.

Sungguh benarlah perkataan seorang penyair bernama Abu Ya'la Al-Maushali:

        إنّي رَأيتُ و في الأيام تَجربَةًٌ
        للصبر عاقبةٌ مَحمُودَةُ الأثرِ..

        و كلّ من جَدّ في أمرٍ يُحاوله
        وَاستَصحَبَ الصّبرَ إلّا فازَ…

    "Sungguh, aku memandang di hari-hari pengalaman yang kudapat, bahwasannya kesabaran itu memiliki akibat yang terpuji…

    Tidaklah setiap orang yang semangat, berusaha dan bersabar dalam suatu perkara, melainkan ia akan mendapatkan yang dicari..."

Demikianlah urusan dunia. Lalu, bagaimanakah sikap seorang penuntut ilmu dalam meraih ilmu yang dipelajarinya?

Seringkali, kita mendapatkan seseorang mundur dari menuntut ilmu lantaran tidak sabar dan mudah putus asa, bahkan tak jarang adapula yang ketika ditanya, "Kenapa sudah gak ikut belajar lagi?" dia mengatakan, "Pelajarannya sulit, ana sudah gak sanggup mengikuti pelajarannya." Benarkah sikap seperti itu?

Kenapa dalam meraih cita-cita dunia kita mampu bersabar; sedangkan untuk meraih ilmu yang memudahkan jalan kita menuju Surga, justru kita mudah putus asa?

Sahabatku, janganlah pernah putus asa dalam meraih ilmu yang anda pelajari! Bersabar dan berusahalah untuk bisa menguasainya, karena sesungguhnya setiap ulama pasti pernah mengalami sulitnya rintangan dalam meraih ilmu.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin –rahimahullāh–, dalam Kitābul 'Ilmi (hlm. 47), mengkisahkan sebuah kisah yang sangat berkesan dari sang guru, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di –rahimahullāh–, akan kesabaran seorang ulama dalam meraih ilmu. Begini kisahnya:

    أن الإمام الكسائي إمام أهل الكوفة في النحو أمه طلب علم النحو فلم يتمكن، و في يوم من الأيام وجد نملة تحمل طعاما لها، و تصعد به إلى الجدار، وكلما صعدت سقطت، ولكنها ثابرت حتى تخلصت من هذه العقبة، و صعدت الجدار، فقال الكسائي : هذه النملة ثابرت حتى وصلت الغاية، فثابر حتى صار إماما في النحو

    "Al-Kisāi adalah imam penduduk Kuffah dalam ilmu Nahwu. Dalam perjalanan mempelajari ilmu Nahwu, beliau pernah mendapatkan kesulitan mempelajarinya dan merasa tidak sanggup menguasainya. Pada suatu hari, Al-Kisāi mendapatkan seekor semut sedang menaiki tembok dengan membawa makanannya. Setiap kali semut itu naik, selalu terjatuh; akan tetapi semut itu sabar dan terus berusaha sampai akhirnya dia mampu membawa makanan tersebut ke tempat yang dituju. Setelah kejadian itu, Al-Kisāi mulai barsabar dan berusaha dalam meraih ilmu yang dia pelajari, sehingga jadilah beliau seorang imam besar dalam ilmu Nahwu di zamannya."

Tahukah anda, siapa beliau? Nama lengkap beliau adalah: Abu Al-Hasan 'Ali bin Hamzah bin 'Abdullāh bin Bahman bin Fairūz Al-Kisāi; dikenal dengan nama Al-Kisāi; lahir di kota Kuffah tahun 119 H, dan wafat tahun 189 H. Ketahuilah, beliau bukanlah orang Arab; akan tetapi setelah mempelajari ilmu Nahwu dengan penuh semangat, konsisten dan bersabar dari para ulama, diantaranya Khalil bin Ahmad –guru besar Sibawaih, ulama Nahwu di kota Basrah–, beliau menjadi seorang ahli Nahwu dan salah satu pembawa riwayat Qirāah Sab'ah.

Berkata Al-Imam Asy-Syafi'i –rahimahullāh–:

    من أراد أن يتبحر في علم النحو، فهو عيال على الكسائي

    "Siapa saja yang ingin menguasai ilmu Nahwu, hendaklah ia berguru kepada Al-Kisāi."

Sahabatku, untukmu yang sedang mempelajari bahasa Arab, tetaplah semangat dan jangan pernah berputus asa ketika mendapatkan kesulitan. Tahukah anda kunci memecahkan sulitnya pelajaran?

Kuncinya adalah:

    لسانٌ سَؤولٌ و قَلب عَقُول و بدن غير مئُول

    Lidah yang sering bertanya, hati yang selalu berpikir, dan badan yang tak pernah letih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelestarian Alam dan Hutan di Era Khilafah

Empat Kewajiban Muslim dan Muslimah

Bunda, dengarkan Ceritaku