Keseriusan Salahuddin Al Ayyubi dalam Menyatukan Umat

                                  Oleh : Adi Ibn Hisyam

Assalamualaikum..

kata Sallahuddin al-Ayubbi ketika ditanya mengapa ia selalu serius dan tidak pernah tertawa?

" Bagaimana aku ingin tertawa sedangkan masjid Al-Aqsha masih dibawah jajahan musuh? "

Mungkin orang akan berfikir, Ngapain juga salahudin ngurusin negara lain? Ngapain juga ngurusin palestine yang bukan tanah kelahirannya?

Salahuddin al ayubi adalah dari keturunan Kurdi. Bukan orang Arab, bukan berkebangsaan Palestina, tapi mengapa salahuddin menghabiskan sepanjang hidupnya berperang untuk membebaskan Mesir dan Palestina Al-Aqsha?

Pertama adalah palestine merupakan tanah suci atau tanah kaum muslimin.

Kedua adalah palestine mayoritas islam, satu aqidah, satu Tuhan.

Ketiga adalah umat islam disana di bantai dengan sangat keji oleh penguasa dan balatentara salibnya.

Ke empat, kewajiban khalifah, sulthan, imamah, amirul mukminin untuk mrnjaga aqidah umat islam, untuk menjaga nyawa dan harta umat islam, berserta menjaga kemuliaan islam.

Beginilah " Harusnya " sikap seorang pemimpin muslim di dunia ini ketika terdengar dan terlihat oleh kasat mata saudaranya di bantai, di bombardir oleh amerika, rusia, inggris, syiah, israel di syiria, di palestine, di afrika, di india, di burma, di irak, di afganistan. Dst... Berfikir Serius untuk menjaga umat islam yang terdzalimi oleh syiah dan Penjajah kapiran kapitalis.

Inilah yang dilakukan oleh sultan salahudin al ayubi. Betapa hebatnya salahuddin ketika berhasil menyatukan umat islam yang terpecah belah, segala persoalan paham, mazhab, ras, dan keturunan semuanya ditinggalkan untuk bersatu di bawah panji Islam yang dipimpin Salahuddin. Bahkan Salahuddin berhasil melenyapkan pemikiran sesat syiah di mesir.

Pada tahun 1171 M, Shalahuddin melakukan langkah besar. Ia menggabungkan wilayah kekuasaannya dengan Khilafah. Lalu membangun benteng pertahanan Mesir untuk melindungi dari serangan musuh. Dan salahudin mempersiapkan perang besar untuk mengusir Kaum Salibis dari Palestina, dan Suriah, serta mengembalikan wilayah tersebut sepenuhnya ke pangkuan Islam.

Pada hari Jumat, 4 Rabiul Akhir 583 H/1187 M, Shalahuddin mengumumkan perang besar melawan kaum salibis, yang dikenal sebagai Perang Hittin. Ia sengaja memulai perang pada hari Jumat demi mengharap berkah doa kaum Muslim, sekaligus memanfaatkan khutbah Jum’at untuk menggelorakan semangat.

Persiapan Shalahuddin untuk menggempur Pasukan Salib di Jerusalem benar-benar matang. Ia menggabungkan persiapan keimanan dan persiapan materi yang luar biasa. Persiapan keimanan ia bangun dengan membersihkan akidah Syiah bathiniyah dari dada-dada kaum muslimin dengan membangun madrasah dan menyemarakkakn dakwah, persatuan dan kesatuan umat ditanamkan dan dibangkitkan kesadaran mereka menghadapi Pasukan Salib. Dengan kampanyenya ini ia berhasil menyatukan penduduk Syam, Irak, Yaman, Hijaz, dan Maroko di bawah satu komando. Dari persiapan non-materi ini terbentuklah sebuah pasukan dengan cita-cita yang sama dan memiliki landasan keimanan yang kokoh.

Pada tahun 580 H, Shalahuddin menderita penyakit yang cukup berat, namun dari situ tekadnya untuk membebaskan Jerusalem semakin membara. Ia bertekad apabila sembuh dari sakitnya, ia akan menaklukkan Pasukan Salib di Jerusalem, membersihkan tanah para nabi tersebut dari kesyirikan trinitas.

Dengan karunia Allah, Shalahuddin pun sembuh dari sakitnya. Ia mulai mewujudkan janjinya untuk membebaskan Jerusalem. Pembebasan Jerusalem bukanlah hal yang mudah, Shalahuddin dan pasukannya harus menghadapi Pasukan Salib di Hathin terlebih dahulu, perang ini dinamakan Perang Hathin, perang besar sebagai pembuka untuk menaklukkan Jerusalem. Dalam perang tersebut kaum muslimin berkekuatan 63.000 pasukan yang terdiri dari para ulama dan orang-orang shaleh, mereka berhasil membunuh 30000 Pasukan Salib dan menawan 30000 lainnya.

Setelah menguras energy di Hathin, akhirnya kaum muslimin tiba di al-Quds, Jerusalem, dengan jumlah pasukan yang besar tentara-tentara Allah ini mengepung kota suci itu. Perang pun berkecamuk, Pasukan Salib sekuat tenaga mempertahankan diri, beberapa pemimpin muslim pun menemui syahid mereka –insha Allah- dalam peperangan ini. Melihat keadaan ini, kaum muslimin semakin bertambah semangat untuk segera menaklukkan Pasukan Salib.

Untuk memancing emosi kaum muslimin, Pasukan Salib memancangkan salib besar di atas Kubatu Shakhrakh. Shalahuddin dan beberapa pasukannya segera bergerak cepat ke sisi terdekat dengan Kubbatu Shakhrakh untuk menghentikan kelancangan Pasukan Salib. Kemudian kaum muslimin berhasil menjatuhkan dan membakar salib tersebut. Setelah itu, jundullah menghancurkan menara-menara dan benteng-benteng al-Quds.

Pasukan Salib mulai terpojok, mereka tercerai-berai, dan mengajak berunding untuk menyerah. Namun Shalahuddin menjawab, “Aku tidak akan menyisakan seorang pun dari kaum Nasrani, sebagaimana mereka dahulu tidak menyisakan seorang pun dari umat Islam ketika menaklukkan Jerusalem”

Namun pimpinan Pasukan Salib, Balian bin Bazran, mengancam “Jika kaum muslimin tidak mau menjamin keamanan kami, maka kami akan bunuh semua tahanan dari kalangan umat Islam yang jumlahnya hampir mencapai 4000 orang, kami juga akan membunuh anak-anak dan istri-istri kami, menghancurkan bangunan-bangunan, membakar harta benda, menghancurkan Kubatu Shakhrakh, membakar apapun yang bisa kami bakar, dan setelah itu kami akan hadapi kalian sampai darah penghabisan! Satu orang dari kami akan membunuh satu orang dari kalian! Kebaikan apalagi yang bisa engkau harapkan!”

Inilah ancaman yang diberikan Pasukan Salib kepada Shalahuddin dan pasukannya.

Shalahuddin pun mendengarkan dan menuruti kehendak Pasukan Salib dengan syarat setiap laki-laki dari mereka membayar 10 dinar, untuk perempuan 5 dinar, dan anak-anak 2 dinar. Pasukan Salib pergi meninggalkan Jerusalem dengan tertunduk dan hina. Kaum muslimin berhasil membebaskan kota suci ini untuk kedua kalinya.

" Dialognya Seperti di Film Kingdom Of Heaven " berkaitan dengan menepati perjanjian salahudin kepada tentara salib, yang saya suka dengar dari diplomasi itu, dengan kata manisnya..

" I Am Salahudin.. "

Shalahuddin memasuki Jerusalem pada hari Jumat 27 Rajab 583 H / 2 Oktober 1187, kota tersebut kembali ke pangkuan umat Islam setelah selama 88 tahun dikuasai oleh orang-orang Nasrani. Kemudian ia mengeluarkan salib-salib yang terdapat di Masjid al-Aqsha, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, dan mengembalikan kehormatan masjid tersebut.

Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)

Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah.

BERSAMBUNG

" ASSASIN  "

#AdiRevolter

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelestarian Alam dan Hutan di Era Khilafah

Empat Kewajiban Muslim dan Muslimah

Bunda, dengarkan Ceritaku