Mendidik Anak dengan Fitroh
Ketika anak belum mau bangun subuh dan sulit bangun, sang ibu dengan lembut membangunkan dan membisikkan di telinga anak, " Bangunlah nak, sudah azan subuh , alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba'damaa amaatana wa ilaihinnusyur." Sang ibu terus membngunkan dengan menyentuh fithrohnya sebagai hamba hingga terbangun dan menuntunnya ke kamar mandi untuk berwudhu. Kebiasaan tsb terus berulang hingga ada masanya ananda bangun subuh sendiri tanpa dibangunkan.
Ketika ananda tergoda menonton tivi dengan tayangan yang tidak bermanfaat, bunda mencoba melarangnya, " Jangan notonton tayangan itu ya nak, karena bisa merusak jiwa dan otak, membuat ade lupa sama Allah, membuat adek malas beribadah dan malas membaca alquran, ganti canel ya yang lebih bermanfaat, ya, bunda sayang adek, merasa rugi bila waktu adek terbuang percuma" Saat itu juga sang anak justru mematikan tv, karena tak ada tayangan yang bagus.
Ketika anak menyaksikan ibunya sholat tahajjud lalu berdoa sambil menangis, anak bertanya kenapa bunda menangis? " Bunda takut sama api neraka nak karena banyaknya dosa, bunda bermohon pada Allah agar kelak di masukkan ke surga yang penuh kesenangan dan kebahagiaan. Bunda melakukan sholat wajib juga sholat tahajjud demi berharap dirindukan surga, kita harus taat pada Allah."
Bunda mencoba menyentuh fithroh ananda sambil memeluknya erat. Tak lama kemudian esok harinya, anandapun meminta kepada bundanya, " bunda besok bangunkan ananda sholat tahajjud, ananda mau masuk surga bersama bunda,"
Itu adalah sekelumit kisah menstimulasi berpikir dan naluriyyah anak usia dini. Anak terlahir di atas fithroh yang suci, bersih tak ternoda. Orang tualah yang membuat fithrohnya ternoda, sebagaimana hadist :
" Tidaklah seorang anak lahir kecuali dalam keadaan fithroh, lalu orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, atau nashrani atau majusi."
Fithroh anak itu adalah Islam, Allah berikan dalam kelurusannya dan dalam kemudahannya dapat menerima sentuhan aqidah islam dalam pendidikan. Maka tugas kita orang tua adalah menjaga fihtroh anak kita tetap dalam kebersihan dan kesuciannya.
Maka disinilah kita bisa memahami konsep stimulasi dini pembentukan kepribadian islam anak. Artinya orang tua dalam mendidik harus bisa menstimulasi fihroh ini agar anak taat pada Allah dengan kesadaran dan tuntunan wahyu.
Konsep mendidik dengan fitroh membutuhkan pengungkapan bahasa aqidah untuk menyetel pemikiran ananda agar senantiasa di atas landasan aqidah. Membutuhkan kekayaan bahasa ibu dan kecerdasan ibu mencelupkan keimanan pada jiwanya.
Seringkali kesulitan dalam mendidik anak disebabkan kita kita mendidik keluar dari fithroh anak, sehingga anak keras dan bandel. Atau kita biarkan dia dirusak fithrohnya oleh yang lain.
Bila ibu dalam berbicara dan berbahasa menodai fithroh anak, besar kemungkinan anak sulit dikendalikan dan menjadi anak pembantah dan pelawan, karena ibu kering dari sentuhan fihroh dalam mendidik.
Jagalah fithroh anak kita dengan baik, dengan demikian kita dapatkan ananda kelak sebagai sosok muslim sejati yang senantiasa menghadapkan wajahnya pada agama fithroh yang lurus / Islam.
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam sesuai fithroh Allah , disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fithroh itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Arrum : 30)
Mengingat Allah menciptakan manusia di atas fithroh yang lurus, maka sangat memungkinkan bagi kita untuk percaya diri bahwa Allah akan membimbing kita dan anak-anak kita selalu bersama dalam fithroh yang sama dan tidak pernah terpisah pisah, selalu dalam pemikiran Islam yang sama dan dalam ketaatan yang sama hingga kelak di yaumul akhir berada di jannah yang sama...
" Oleh karena itu , hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah " arrum : 43
Komentar